ANALISIS ALIRAN MATERIAL BULKY WASTE KOTA BANDUNG
Sub Judul Oleh : Rahmi Utami, NIM : 25315014
Call Number T/ 628.440/ UTA/ a
Tipe 1
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang UTAMI, Rahmi - Pembimbing : Dr. Benno Rahardyan, S.T., M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Bulky waste merupakan sampah yang berukuran besar yang berasal dari rumah tangga. Sampah jenis ini membutuhkan ruang yang cukup besar jika dibuang ke TPA, sedangkan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin berkurang. Di sisi lain, material bulky waste dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku. Saat ini, Di Indonesia khususnya Kota Bandung belum ada peraturan terkait bulky waste, sehingga sampah tersebut tidak jarang ditemukan di tempat pengumpulan sementara (TPS). Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui timbulan bulky waste di Kota Bandung serta penanganan yang dilakukan terhadap bulky waste itu sendiri. Untuk mengetahui timbulan bulky waste, penelitian ini menggunakan konsep analisis aliran material. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa timbulan bulky waste Kota Bandung adalah 27540 ton per tahun, dimana 448,39 ton per tahun dibuang ke TPA. Pemilahan di TPS menghasilkan 161,84 ton bulky waste/tahun dapat dijual kembali ke pelaku daur ulang. Selain dibuang ke TPA dan dijual, bulky waste biasanya disimpan, dihibahkan dan dibakar. Komposisi bulky waste paling banyak ditemukan adalah Waste Electronic and Electrical Equipment 41,2%, perabot 29,4%, peralatan rumah tangga 11,6% dan sisanya berasal dari peralatan dapur, peralatan taman, karpet dan peralatan kamar mandi. Pada penelitian ini menemukan pentingnya pengelolaan bulky waste secara terpisah dari sampah kota umumnya termasuk dalam penetapan tarif retribusi bulky waste.
ANALISIS DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS AIR MELALUI PENGELOLAAN KEGIATAN BUDIDAYA IKAN INTENSIF (STUDI KASUS: KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA)
Sub Judul Oleh : Tjut Sutjinurani, NIM : 25314725
Call Number T/ 658.16/ SUT/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang SUTJINURANI, Tjut - Pembimbing : Dr. Suharyanto, ST. MSc
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Selain digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air sebagai fungsi utamanya, Waduk Cirata lebih dominan dimanfaatkan untuk aktivitas budidaya ikan atau keramba jaring apung, Pemanfaatan waduk untuk aktivitas budidaya keramba jaring apung selain memberikan dampak positif juga memberikan dampak negatif berupa pencemaran air, eutrofikasi, penurunan keanekaragaman hayati, pendangkalan atau sedimentasi, penurunan produktivitas ikan, dan kegiatan pembangkit listrik itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Waduk Cirata berdasarkan parameter kimia secara umum, menganalisis nilai daya tampung beban pencemar air dan beban aktual dari kegiatan perikanan KJA dan non KJA di Waduk Cirata, dan menganalisis lembaga dan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam pengelolaan perikanan budidaya keramba jaring apung berkelanjutan di Waduk Cirata. Pengelolaan KJA dilakukan dengan optimasi pengurangan jumlah petak KJA, jumlah produksi ikan dan jumlah pemberian pakan yang diberikan dengan menganalisis nilai Daya Tampung Beban Pencemaran Air (DTBPA) Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun 2009 berdasarkan kriteria mutu air kelas III Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001. Nilai DTBPA parameter fosfor untuk Waduk Cirata adalah sebesar 6.122,41 ton, sedangkan estimasi beban pencemar total P aktual dari kegiatan KJA dan non KJA (inlet sungai) sebesar 4.358,20 ton/tahun dan 2.545,66 ton/tahun. Nilai daya tampung produksi ikan maksimum dan pakan maksimum Waduk Cirata adalah sebesar 72.626,51 ton ikan dan 145.253,01 ton pakan, sedangkan estimasi total produksi ikan dan pakan aktual per tahun adalah sebanyak 236.216,70 ton ikan dan 275.586,15 ton pakan. Sehingga perlu dilakukan pengurangan jumlah keramba jaring apung sebesar 73,86%.
APLIKASI PROSES FISIKA KIMIA PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL DENGAN OZONISASI SEBAGAI PENGOLAHAN PENDAHULUAN DAN PENGOLAHAN LANJUT
Sub Judul Oleh : I Wayan Koko Suryawan, NIM : 25315019
Call Number T/ 628.3/ SUR/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang SURYAWAN, I Wayan Koko - Pembimbing Pertama : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D dan Pembimbing Kedua : Dr. Qomarudin Helmy, S.Si., M.T
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Industri tekstil menghasilkan limbah cair yang berasal dari berbagai proses olahan. Karakteristik limbah cair yang dihasilkan industri tekstil sangat erat hubungannya dengan bahan-bahan yang digunakan dalam tahapan proses pembuatan tekstil. Limbah tekstil biasanya mengandung COD, BOD, dan beberapa logam - logam beserta zat pewarna. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui dan mempelajari kinetika pengolahan limbah tekstil berbasis ozon terhadap degradasi COD dan zat warna sebagai pengolahan pendahuluan maupun lanjutan. Dalam penelitian ini digunakan variasi dosis ozon sebesar 1,16; 3,81; 18,79, dan 40,88 mg/menit. Variasi jenis limbah yang digunakan dalam proses pengolahan pendahuluan yaitu 100 mg/L (RB5), 100 mg/L (RB5 + 1 g/L Kanji), serta limbah asli yang masuk ke IPAL. Sedangkan variasi jenis limbah yang digunakan dalam proses lanjutan yaitu 10 mg/L (RB5), 40 mg/L (RB5), dalan limbah yang keluar dari pengolahan biologis yang kemudian diendapkan. Hasil percobaan menunjukkan penurunan konsentrasi warna dengan konsentrasi awal 100 mg/L mencapai efisiensi penyisihan diatas 90 % pada waktu 5 jam, sedangkan limbah warna dengan kanji 1 g/L menunjukkan hasil penyisihan warna sebesar 70% dalam waktu 2 jam. Limbah sebagai pengolahan lanjutan dengan konsentrasi awal RB5 10 mg/L dan 40 mg/L menunjukkan penyisihan diatas 90%. Penyisihan COD memiliki efisiensi penyishan yang lebih rendah dari pada penyisihan warna. Untuk membuktikan adanya proses degradasi maka dilakukan pengukuran BOD/COD yang semakin meningkat. Dalam percobaan dengan mengunakan peningkatan skala reaktor, terjadi penurunan effiesiensi penyisihan baik warna maupun COD. Studi penyisihan warna dan COD menunjukkan kinetika reaksi orde satu semu, hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan dan hasil percobaan yang memiliki suatu kemiripan.
ANALISIS KERENTANAN PENCEMARAN AIRTANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SINTACS DAN PENENTUAN SKALA PRIORITAS TINDAKAN PENGENDALIAN KERENTANAN AIRTANAH DI KOTA CIMAHI
Sub Judul Oleh : Gilang Garnadi Suryadi, NIM : 25314706
Call Number T/ 628.168/ SUR/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang SURYADI, Gilang Garnadi - Pembimbing : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Peta kerentanan airtanah telah menjadi alat standar untuk melindungi sumber airtanah dari polusi dan sangat berharga dalam proses pengambilan keputusan terkait perencanaan tata guna lahan. Asumsi bahwa lingkungan fisik mempengaruhi tingkat perlindungan pada airtanah terhadap bahan pencemar dan memasuki lingkungan bawah permukaan. Salah satu metode pembuatan peta kerentanan pencemaran airtanah adalah metode SINTACS. Metode SINTACS memiliki 7 parameter yaitu: kedalaman muka airtanah, laju pengisian kembali, zona tak jenuh, tekstur tanah, media akuifer, konduktifitas hidrolik, dan kemiringan lereng. Analisa data dilakukan dengan menggunakan aplikasi Arcgis 10.3 Dilakuan juga penentuan skala prioritas tindakan pengendalian kerentanan airtanah. Studi ekspolratif yang berorientasi pada penggalian fakta lapangan dan multikriteria dalam memilih model atau strategi alternatif untuk mengoptimalkan kinerja strategi kerentanan airtanah. Sebagai kajian terapan, terlebih dahulu dilakukan mempelajari teori dan penelitian terlebih dahulu kemudian dilakukan survey yaitu pengisian kuisoner untuk mengumpulkan data sampel pada suatu waktu tertentu dari beberapa responden ahli. Metode yang digunakan yaitu AHP dan menggunakan software Expert Choice. Kerentanan pencemaran airtanah di Kota Cimahi berdasarkan hasil penilaian metode SINTACS terbagi menjadi lima kelas kerentanan yaitu Zona sangat rendah kerentanan pencemaran airtanah Kota Cimahi tersebar di 4 kelurahan yaitu Cipageran, Citeureup, Cibabat dan Pasir Paliki. Zona Sedang kerentanan pencemaran airtanah Kota Cimahi tersebar di 10 Kelurahan Cipageran, Citeureup, Cibabat, Pasir kaliki, Cimahi, Padasuka, Setia Manah, Karang Mekar, Baros dan Cigugur. Zona Tinggi kerentanan pencemaran airtanah Kota Cimahi tersebar di kelurahan yaitu Cibeureum, Melong, Utama, Leuwi Gajah, Cibeber , Padasuka. Zona sangat Tinggi kerentanan pencemaran airtanah Kota Cimahi tersebar di kelurahan yaitu Cibeureum, Cigugur, baros, Utama, Leuwi Gajah, Cibeber, Padasuka Cipageran, Citeureup. Serta terpilih lima opsi kategori yang menjadi pilihan populer dimata ahli, secara berurutan yaitu pembatasan debit, penerapan AMDAL, peraturan kerapatan lokasi, penentuan zona pengambilan dan penerapan instrumen Ekonomi.
PENGEMBANGAN KRITERIA PENILAIAN METODE DRASTIC DALAM ANALISA KERENTANAN PENCEMARAN AIRTANAH DI KOTA BANDUNG
Sub Judul Oleh : Adi Mulyanas Supriatna, NIM : 25314749
Call Number T/ 628.168/ SUR/ p
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang SUPRIATNA, Adi Mulyanas - Pembimbing : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Perlindungan terhadap sumber daya airtanah dapat dilakukan dengan membuat peta kerentanan pencemaran airtanah. Informasi yang didapat mengenai sebaran potensi kerentanan pencemaran airtanah di suatu wilayah dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembangunan berkelanjutan. Metode DRASTIC merupakan salah satu instrumen untuk mengevaluasi kerentanan pencemaran airtanah. Metode ini cukup popular dan banyak digunakan oleh para peneliti karena baik digunakan dalam skala regional. Akan tetapi tujuh parameter (kedalaman muka airtanah, curah hujan, media akuifer, media tanah, topografi, zone vadose, konduktivitas hidrolis) yang dijadikan dasar analisa tidak menambahkanparameter penutup lahan sebagai aspek aktifitas manusia yang berpotensi menambah kerentanan. Berdasarkan dari hal tersebut pengembangan kriteria penilaian metode yang dimaksud yaitu dengan memasukan parameter penutup lahan. Selain itu penyesuaian mengenai parameter dan bobot yang dikaitkan dengan kondisi wilayah studi di kota Bandung. Pengembangan kriteria penilaian yang dilakukan mengunakan metodeAnalisis Hirarki Proses (AHP) dengan penyebaran kuesioner dilberikan kepada stakeholder (akademisi, pemerintahan dan masyarakat) berjumlah 30 sampel. Setelah didapatkan bobot untuk parameter penggunaan lahan, langkah selanjutnya membuat peta kerentanan pencemaran airtanah dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan analisa overlay/tumpang susun pada peta-peta yang telah dibuat berdasarkan parameter pengembangan metode DRASTIC. Lokasi penelitian berada di kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Hasil analisa menunjukan bahwa penambahan parameter penutup lahan yang digunakan dalam analisa kerentanan pencemaran airtanah di Kota Bandung dapat meningkatkan sensitivitas penilaian. Selain itu, sensitivitas metode pengembangan lebih baik daripada metode DRASTIC karena penyebaran zona kerentanan tingginya lebih luas.
EVALUASI PENERAPAN, PELAKSANAAN DAN PENGELOLAAN BIODIGESTER SAMPAH ORGANIK DI KOTA BANDUNG
Sub Judul Oleh : Hani Septia Rahmi, NIM : 25314728
Call Number T/ 628.445/ RAH/ e
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang RAHMI, Hani Septia - Pembimbing : Dr. Benno Rahardyan, S.T., M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Biodigester merupakan salah satu contoh teknologi yang dapat mengolah sampah organik menjadi sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan bermanfaat. Biodigester menjadi pilihan pemerintah Kota Bandung untuk menyelesaikan permasalahan sampah organik perkotaan. Dalam pengelolaannya, umumnya dilakukan oleh masyarakat. Jenis biodigester yang beroperasi terdiri atas 75% biodigester rumah tangga dan 25% biodigester komunal. Penelitian ini didasari oleh dua hipotesis yaitu biodigester perorangan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan biodigester komunal serta kendala utama dalam pengelolaan biodigester terletak pada aspek teknis. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, statistika, dan perbandingan. Instrumen yang digunakan: observasi, wawancara, kuisioner dan uji laboratorium terhadap input-ouput dari biodigester. Informan atau partisipan yang digunakan berasal dari NGO (LPTT dan YSBB), pemerintah (PD. Kebersihan, Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, dan BPLH Kota Bandung), dan pengguna biodigester. Dari penelitian ini diketahui, tipe biodigester rumah tangga yang masih banyak digunakan dengan persentase pemakaian 48,27% sedangkan masyarakat yang masih menggunakan biodigester komunal sebanyak 6,89%. Hambatan dalam penerapan biodigester ddipengaruhi oleh 3 aspek yaitu aspek teknis, aspek pendanaan, dan aspek kelembagaan. Untuk pengelolaan biodigester rumah tangga, kendala utama didominasi oleh aspek teknis sebesar 30,48% sedangkan dalam pengelolaan biodigester komunal terletak pada 3 aspek yaitu, aspek pendanaan 69,56%, aspek kelembagaan 43,47%, dan aspek teknis 43,78%.
IDENTIFIKASI PENYEBARAN POLUTAN DALAM UPAYA PENGELOLAAN AIR TANAH DI KOTA YOGYAKARTA
Sub Judul Oleh Dwi Nursila Sakti, NIM : 25314308
Call Number T/ 628.53/ SAK/ i
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang SAKTI, Dwi Nursila - Pembimbing : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D. dan Pembimbing Kedua : Ir. Yuniati, M.T., M.Sc., Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Airtanah dangkal merupakan airtanah yang berada pada lapisan akifer bebas yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan yaitu terkontaminasi oleh limbah yang mengalir bersama airtanah. Potensi pencemaran airtanah yang terjadi pada pemukiman dengan kepadatan tinggi dan dengan sistem sanitasi setempat (on site sanitation) yaitu dengan tangki septik konvensional. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diikuti dengan peningkatan pengelolaan sarana sanitasi ini akan menjadi permasalahan yang serius khususnya pada isu lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta yang memiliki kepadatan penduduk 19.525 jiwa/km2 dengan tujuan untuk mengidentifikasi penyebaran polutan dengan parameter nitrat (NO3) dan memprediksi tingkat pencemaran pada 10 tahun mendatang dengan simulasi ada dan tidak adanya unit pengolahan limbah tinja terpusat (IPLT) atau penyaluran limbah menuju IPAL untuk menjaga kualitas airtanah. Penelitian ini dilakukan dengan cara pemodelan dengan menggunakan perangkat lunak MODFLOW dan MT3DMS dengan mempertimbangkan kondisi hidrogeologi pada wilayah penelitian. Kepadatan penduduk di wilayah penelitian menghasilkan konsentrasi nitrat yang terlindikan ke airtanah sebesar 45 mg/L yang menyebabkan selama 10 tahun airtanah tercemar dengan konsentrasi NO3 berkisar antara 20 mg/L hingga 52 mg/L. Dengan adanya IPLT konsentrasi NO3 kurang dari 10 mg/L hingga 0 mg/L.
ANALISA KEHADIRAN SEMUT SEBAGAI INDIKATOR SANITASI DI RUMAH MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH
Sub Judul Oleh: Zuli Rodhiyah, NIM: 25314737
Call Number T/ 628.746/ ROD/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang RODHIYAH, Zuli - Pembimbing Pertama : Dra. BartiSetianiMuntalif, Ph.D dan Pembimbing Kedua : Dr. Ir. Priana Sudjono, MS. Dipl.Eng
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Semut merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Beberapa faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, struktur vegetasi, landscape dan ketersediaan makanan menjadi aspek penting bagi kehadiran semut di suatu lingkungan. Pemukiman masyarakat berpenghasilan rendah merupakan kampung, yang umumnya terletak di sekitar pusat kota, mempunyai tingkat hunian dan koefisien dasar bangunan (KDB) yang tergolong tinggi, serta prasarana fisik lingkungan yang kurang memadai. Keadaan tersebut menyebabkan potensi kehadiran semut di lingkungan tersebut sangat tinggi. Dalam berbagai penelitian diketahui bahwa semut dapat menjadi vektor penyakit dengan membawa berbagai jenis mikroba di permukaan tubuhnya. Pada penelitian ini akan menganalisa hubungan antara sanitasi rumah khususnya komponen struktur bangunan rumah terhadap kehadiran semut yang terdapat pada perumahan masyarakat berpenghasilan rendah, selain itu juga akan dilakukan analisa awal untuk mengetahui potensi semut sebagai vektor mikroba penyakit melalui uji coliform yang terdapat pada permukanaan tubuh semut. Pada penelitian ini tingkat sanitasi rumah akan dinilai menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh Warliana (2015). Penilaian kriteria sanitasi difokuskan pada penilaian komponen struktur fisik rumah. Tipe rumah yang akan diteliti dibedakan menjadi dua kategori berdasarkan tipe rumah dan berdasarkan jarak rumah terhadap sungai. Pemilihan sampel rumah berdasarkan tipe rumah dibagi menjadi rumah semi permanen dan rumah permanen, sedangkan berdasarkan letaknya terhadap sungai, rumah dibagi menjadi rumah di dekat sungai dan rumah yang jauh dari sungai. Keanekaragaman dan jumlah semut dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Uji coliform dilakukan berdasarkan standar SNI 2897:2008. Penelitian ini dilaksanakan di tiga kelurahan yang ada di Kota Bandung yaitu kelurahan Taman sari, Kelurahan Cipaganti dan kelurahan Lebak siliwangi. Ketiga kelurahan tersebut merupakan kawasan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Berdasarkan hasil penilain komponen fisik sanitasi rumah, kondisi sanitasai rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tergolong dalam kategori kurang baik. Didapatkan sebanyak 13 spesies semut yang berada di lingkungan rumah MBR,. Spesies semut yang paling banyak ditemukan adalah Pheidole sp. dan Paratrechina longicornis. Didapatkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman pada rumah permanen sebesar 1,97, rumah semi-permanen 1,95, rumah jauh sungai 1,93 dan rumah dekat sungai sebesar 1,82. Berdasarkan tolok ukur yang digunakan, ke-empat nilai tersebut tergolong pada kategori tingkat keanekaragaman rendah. Hasil analisa distribusi frekuensi berdasarkan tipe rumah (Permanen dan Semi-permanen), tidak ditemui adanya perbedaan terhadap jumlah semut yang ada pada lingkungan MBR. Begitu juga berdasarkan lokasi rumah terhadap sungai (rumah jauh sungai dan rumah dekat sungai). Sedangkan, berdasarkan uji statistik korelasi yang dilakukan keberadaan semut berkorelasi dengan sub-komponen kelembaban ruangan, temperatur ruangan, kondisi atap, keberadaan teras, vegetasi, instalasi listrik dan jarak rumah terhadap kandang hewan. Uji coliform dilakukan terhadap semut yang paling dominan ditemukan. Empat dari enam sampel semut menunjukkan hasil positif terhadap uji coliform. Hal tersebut mengindikasikan adanya bakteri lain yang terdapat pada tubuh semut, namun bukan termasuk ke dalam kelompok Coliform. Uji coliform yang dilakukan menunjukkan adanya hubungan antara semut dan bakteri. Adanya hubungan antara bakteri dan semut mengindikasikan bahwa semut juga dapat berkontribusi terhadap tingginya jumlah penderita penyakit gastroenteritis.
KINETIKA DEGRADASI SENYAWA ORGANIK PADA AIR LIMBAH INDUSTRI KERTAS YANG MENGANDUNG 4-KLOROFENOL DENGAN ADVANCED OXIDATION PROCESS (AOPs) KOMBINASI OZON (O3) DAN HIDROGEN PEROKSIDA (H2O2)
Sub Judul Oleh : ALFI ROHMAN, NIM: 25313311
Call Number T/ 628.54/ ROH/ k
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang ROHMAN, Alfi - Pembimbimg : Prof. Dr. Ir. Mindriany Syafila, MS
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Air limbah industri kertas dihasilkan dari proses pulping, bleaching dan papermaking. Proses bleaching yang menggunakan klorin dalam industri kertas akan menghasilkan produk sampingan (byproducts) berupa senyawa klorofenol. Pengolahan lanjutan dari air limbah industri kertas yang mengandung 4-klorofenol diterapkan menggunakan Advanced oxidation process (AOPs) sebagai langkah penyempurna (polishing). AOPs memiliki kemampuan untuk menghasilkan hidroksil radikal (OH*), zat pengoksidasi kuat yang mampu untuk mengoksidasi senyawa organik menjadi karbon dioksida, air, dan mineral atau garam. Pada penelitian ini akan mempelajari berbagai faktor yang mempengaruhi proses AOPs diantaranya ozone-feeding rate dengan variasi 0 ppm/menit; 17,57 ppm/menit; dan 34,73 ppm/menit, dosis hidrogen peroksida (H2O2) sebesar 0 ppm; 25 ppm; dan 50 ppm, serta pH 5; 6,61; dan 10. Percobaan dilakukan dengan desain multifaktor dan dilakukan secara duplo. Air limbah industri kertas yang digunakan merupakan air limbah artifisial yang mengandung 4-klorofenol sebesar 10 mg/L dan nilai COD sebesar 140,80 mg/L. Dari percobaan pendahuluan didapatkan bahwa waktu reaksi percobaan dilakukan selama 60 menit. Kondisi optimum dicapai pada variasi ozone-feeding rate sebesar 34,73 ppm/menit; dosis hidrogen peroksida sebesar 25 ppm; dan kondisi pH 10. Degradasi senyawa organik pada air limbah industri kertas dengan AOPs kombinasi ozon dan hidrogen peroksida pada kondisi optimum mengikuti orde satu dengan konstanta laju reaksi sebesar 0,03 menit-1. Karakteristik akhir limbah pada kondisi optimum memiliki nilai COD sebesar 76,86 mg/L; BOD sebesar 20,45 mg/L; 4-klorofenol sebesar 3,24 mg/L; TOC sebesar 24,45 mg/L; dan pH sebesar 8,76.
ANALISIS RUTE PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG DENGAN METODE SHORTEST DISTANCE
Sub Judul Oleh : AGIL HARNOWO PUTRA, NIM: 25314310
Call Number T/628.44/ PUT/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Prodi TL ITB
Pengarang PUTRA, Agil Harnowo - Pembimbing : Dr. Mochammad Chaerul. S.T. M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi
ANALISIS KONTRIBUSI PENCEMAR TOTAL SUSPENDED PARTICULATE (TSP) KAWASAN INDUSTRI CILEGON DENGAN CHEMICAL MASS BALANCE (CMB)
Sub Judul Oleh : Grace Indah Puiputri, NIM : 25314721
Call Number T/ 628.53/ PUI/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PUIPUTRI, Grace Indah - Pembimbing : Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Perkembangan industri di Cilegon selain meningkatkan perekonomian daerah juga berpotensi menurunkan kualitas udara yang dirasakan oleh masyarakat. Total Suspended Particulate (TSP) merupakan polutan di udara yang berukuran antara 10-100 µm. Tingginya konsentrasi TSP dapat menyebabkan gangguan visibilitas dan memperburuk penyakit pernapasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi TSP dan mengidentifikasi kontribusi pencemar TSP di udara ambien pemukiman sekitar kawasan industri Kota Cilegon, yang dilakukan pada tiga titik yaitu Kelurahan Tegal Buntu, Kelurahan Cigading dan Kelurahan Kubangsari. Analisis Black Carbon pada sampel dilakukan menggunakan EEL 43M smoke stain reflectometer sedangkan elemen logam dianalisis menggunakan energy dispersive x-ray fluorescence. Rerata konsentrasi TSP untuk Kelurahan Tegal Buntu, Kelurahan Cigading, dan Kelurahan Kubangsari adalah 161,372 µg/m3, 149,447 µg/m3, dan 191,484 µg/m3. Analisis kontribusi sumber TSP dengan CMB 8.2 pada Kelurahan Tegal Buntu menghasilkan kontribusi debu tanah, peleburan logam, pembakaran batubara, industri besi baja, dan transportasi sebesar 28,3%, 19,3%, 16,04%, 15%, dan 14,8%. Kemudian untuk Kelurahan Cigading kontributornya adalah debu tanah, peleburan logam, industri besi baja, pembakaran batubara, dan transportasi sebesar 29,9%, 19%, 15,6%, 15,1%, dan 13,2%. Sedangkan kontributor Kelurahan Kubangsari adalah debu tanah, industri besi baja, pembakaran biomasa, transportasi, dan peleburan logam sebesar 31,4%, 23,2%, 15,8%, 14%, dan 10,6%.
DEGRADASI LIMBAH FENOL SECARA FOTOKATALISIS MENGGUNAKAN SEMIKONDUKTOR ZnO/KITOSAN
Sub Judul Oleh : ROSADALIMA DEE PANDA, NIM: 25315023
Call Number T/ 628.54/ PAN/ d
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PANDA, Rosadalima Dee - Pembimbing : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Konsumsi fenol sebagai salah satu komponen yang digunakan dalam berbagai industri cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Secara bersamaan, terjadi peningkatan limbah senyawa organik tersebut yang masuk ke badan air. Dalam jumlah yang melebihi ambang batas, maka fenol dapat bersifat toksik dan membahayakan baik ekosistem perairan maupun manusia. Fotokatalis merupakan salah satu proses Advanced Oxidation Process (AOP) yang dapat dengan cepat memineralisasi senyawa organik. Seng Oksida (ZnO) dikenal sebagai salah satu katalis yang ramah lingkungan, memiliki struktur kristal yang unik, mudah disintesis dan ekonomis. Dalam pengembangannya, ZnO dikombinasikan dengan polimer untuk meningkatkan kestabillan katalis tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan sintesis katalis ZnO/kitosan dengan metode presipitasi. Dilakukan pengamatan terhadap sintesis ZnO/kitosan dengan variasi perbadingan ZnO (0.25, 0,5 dan 0,75 % ) dalam kitosan. Uji pendahuluan menunjukan bahwa ZC 0.5 dan ZC0,75 mampu mendegradasi fenol sebanyak 60-70%. Karakterisasi katalis hasil sintesis dilakukan dengan FTIR, XRD, SEM EDS, dan UV Vis DRS. Katalis hasil sintesis kemudian diuji coba untuk mendegradasi senyawa fenol pada berbagai variasi pH, dosis katalis, waktu pemaparan UV dan variasi konsentrasi fenol. Penyisihan fenol berkisar dalam rentang 65-75% dengan nilai konstanta laju reaksi dan koefisien adsorpsi oleh katalis ZC0,75% sebesar k= 2 mg/L/menit dan K= 0, 005 (L/mg).
ANALISIS MANFAAT BIAYA PENGELOLAAN LIMBAH SPENT BLEACHING EARTH MELALUI PEMANFAATAN DAN PENIMBUNAN DENGAN MEMPERHITUNGKAN NILAI GAS RUMAH KACA
Sub Judul Oleh : KAPAS FERNANDO PASARIBU, NIM: 25315024
Call Number T/ 628.42/ PAS/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PASARIBU, KAPAS FERNANDO - Pembimbing : Dr. Sukandar, S.Si., M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Peningkatan industri oleokimia yang bersumber dari minyak sawit mendorong tumbuhnya limbah spent bleaching earth (SBE). Pada tahun 2014, pemerintah telah menetapkan limbah SBE sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3) kategori 2 dari sumber spesifik. Urgensi pengelolaan limbah SBE yang tunduk pada tata cara pengelolaan limbah B3 mendorong peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) yang berdampak negatif pada perubahan iklim. Oleh karenanya, eksternalitas berupa emisi GRK perlu diinternalisasi dalam skenario perencanaan biaya. Dalam penelitian ini, pengujian nilai manfaat-biaya pada skenario pengelolaan limbah SBE yang meliputi pemanfaatan dan penimbunan telah dilakukan. Skenario yang diuji meliputi: Penimbunan limbah SBE; Pemanfaatan limbah SBE dalam pembuatan biodiesel dan penimbunan deoiled bleaching earth (De-OBE); Pemanfaatan limbah SBE dalam pembuatan biodiesel dan pemanfaatan De-OBE pada kiln semen yang merupakan pihak ke-3; dan pemanfaatan limbah SBE dalam pembuatan biodiesel dan pemanfaatan De-OBE dalam pembuatan paving block. Pembuatan biodiesel pada pengelolaan limbah SBE memiliki aspek pemanfaatan yaitu perolehan kembali minyak nabati yang terkandung didalam SBE, sedangkan proses pemanfaatan pada kiln semen dan dalam pembuatan paving block memiliki aspek perolehan kembali bahan alam berupa bentonit (kiln semen) dan bahan pengganti pasir (paving block). Nilai emisi GRK dari sektor pemanfaatan dan sektor bergerak telah diketahui melalui perhitungan faktor emisi yang dikeluarkan oleh Department for Business, Energy and Industrial Strategy, sedangkan nilai GRK dari sektor penimbunan diketahui melalui metoda perhitungan Intergovernmental Panel on Climate Change. Pada skenario penimbunan atau landfilling, manfaat eksternal berupa CH4 recovery divariasikan sebesar 0%, 5%, 10%, dan 20%. Nilai emisi GRK pada tiap skenario selanjutnya diinternalisasikan ke dalam nilai ekonomi melalui perhitungan shadow price of carbon (SPC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alternatif terbaik dalam pengelolaan limbah SBE melalui valuasi ekonomi dengan memperhitungkan nilai emisi yang dihasilkan oleh tiap skenario. Terkait pengambilan keputusan terhadap skenario pengelolaan limbah terbaik, maka diperlukan suatu analisis yang mampu menganalisis kelayakan suatu skenario melalui valuasi ekonomi. Salah satu analisis yang dapat digunakan dalam memilih skenario terbaik dalam pengelolaan limbah SBE adalah analisis manfaat biaya atau benefit-cost analysis (BCA) melalui penentuan nilai net present value (NPV) dan benefit cost ratio (BCR). Komponen biaya dan manfaat pada masing-masing skenario diperlukan dalam analisis BCA. Komponen biaya dan manfaat baik yang bersifat internal maupun eksternal pada masing-masing skenario selanjutnya diinternalisasi ke dalam perhitungan BCA. Eksternalitas berupa GRK pada masing-masing skenario dalam CO2 ekivalen selanjutnya diinternalisasi melalui perhitungan SPC. GRK didefinisikan sebagai eksternalitas negatif karena dapat berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Skenario pengelolaan melalui pemanfaatan limbah SBE dalam pembuatan biodiesel dan residunya berupa De-OBE memiliki nilai NPV dan BCR terbesar. Hal ini dikarenakan adanya komponen paving block yang menambah nilai manfaat dari skenario tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai GRK pada setiap skenario dari tahun ke-0 hingga ke-10 dari skenario ini adalah 55.371,42 ton CO2e. Nilai ini lebih besar dibanding skenario landfill SBE dikarenakan emisi pembakaran seluruh biodiesel hasil pemanfaatan minyak nabati pada SBE diperhitungkan. Besaran emisi dari pembakaran biodiesel hasil pemanfaatan minyak nabati pada SBE adalah sebesar 48.917,96 ton CO2e. Selain itu, nilai rerata SPC pada skneario ini lebih kecil dibanding skenario lainnya, yaitu sebesar Rp. 2.841.357.603. Rendahnya nilai SPC pada skenario ini disebabkan oleh cepatnya besaran minyak nabati yang digunakan dalam pembakaran, sehingga dampak peningkatan nilai SPC dari tahun ke tahun tidak berdampak besar pada skenario ini. Nilai NPV dan BCR pada skenario pembuatan biodiesel dan paving block masing-masing adalah Rp. 102.903.928.221,50 dan 1,5295. Analisis sensitivitas juga telah dilakukan pada skenario biodiesel-paving block. Dari hasil uji sensitivitas didapatkan bahwa perubahan harga bahan baku sebesar 10% tidak berpengaruh besar terhadap skenario pemanfaatan limbah SBE dalam pembuatan biodiesel dan residunya dalam pembuatan paving block.
PEMILIHAN METODE IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RESIKO SERTA PENERAPANNYA PADA PROSES PRODUKSI PT X DENGAN MENGGUNAKAN AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS)
Sub Judul Oleh : Lamtua Purba, NIM : 25315021
Call Number T/ 628.42/ PUR/ p
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PURBA, Lamtua - Pembimbing Pertama : Ir. Indah Rachmatiah Siti Salami M.Sc., Ph.D. dan Pembimbing Kedua : Dr. Benno Rahardyan S.T., M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Upaya dalam mengurangi dan mencegah terjadinya kecelakaan akibat kerja adalah dengan melakukan identifikasi bahaya dan analisis resiko. Akan tetapi banyak dari industri belum melakukan kegiatan tersebut, salah satunya PT X yang berada di kota Bandung. Terdapat beberapa jenis metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya seperti JHA, FMEA, dan What-if, tetapi metode-metode tersebut tentunya memiliki kelebihan, kekurangan, serta perbedaan dalam prosedur implementasinya. AHP (Analitycal Hierarchy Process) dipergunakan untuk pengambilan keputusan dalam menentukan metode identifikasi bahaya yang sesuai diterapkan pada PT X. Responden ahli yang terlibat dalam kuesioner AHP berasal dari internal maupun eksternal PT X, dimana para responden adalah orang-orang yang bekerja di bidang K3, pernah mendapatkan pelatihan atau sertifikasi K3, serta memahami mengenai identifikasi bahaya dan analisis risiko. Hasil pengambilan keputusan yang diperoleh dari PT X berdasarkan penilaian AHP untuk semua kelompok responden, bahwa dengan melihat analisis AHP berdasarkan jumlah responden terbanyak yang mewakili responden internal dan eksternal PT X, maka hasil penilaian berdasarkan responden gabungan (konsistensi penilaian ?75%) menjadi dasar dalam menentukan alternatif metode terpilih, dimana What-if memiliki bobot tertinggi (0,378), disusul oleh JHA (0,357), dan FMEA (0,265). What-if kemudian menjadi metode yang terpilih untuk diterapkan pada PT X. Keunggulan dari metode What-if adalah biaya yang dikeluarkan paling murah, waktu analisis paling cepat, jumlah personil tim dan dokumentasi yang dibutuhkan paling sedikit, dan keahlian tim yang diperlukan paling minim dibandingkan dengan metode JHA dan FMEA. Dari hasil identifikasi bahaya dengan menggunakan metode What-if, skor resiko tertinggi (300) berada pada unit sawing, turning, turn-mill, milling yang disebabkan oleh sumber bahaya gravitasi.
PENGOLAHAN ZAT WARNA REACTIVE BLACK 5 MENGGUNAKAN MOVING BED BIOFILM REACTOR (MBBR)
Sub Judul Oleh : Riska Pratiwi, NIM : 25315006
Call Number T/ 628.3/ PRA p
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PRATIWI, Riska - Pembimbing Pertama : Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D dan Pembimbing Kedua : Dr. Qomarudin Helmy, S.Si., M.T
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Proses penghilangan kanji (desizing) dan proses pencelupan (dying) pada industri tekstil menghasilkan limbah dengan kandungan zat organik dan warna yang tinggi sehingga diperlukan pengolahan sebelum dilepaskan ke lingkungan. Pada penelitian ini, dilakukan studi penyisihan zat warna azo, yaitu Remazol Black 5 (RB 5) dan organik sebagai sumber karbon yang berasal dari kanji menggunakan proses pengolahan biologi dengan teknologi moving bed biofilm reactor (MBBR). MBBR merupakan teknologi dengan prinsip pertumbuhan terlekat yang memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi penyisihan kandungan organik pada limbah. Pada penelitian ini juga dimaksudkan untuk menentukan efektivitas ozonasi sebagai pre- treatment untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah dengan MBBR. Hasil menunjukkan bahwa pada MBBR sistem batch dengan waktu detensi 48 jam, diketahui bahwa reaktor yang diozonasi terlebih dahulu diperoleh penyisihan COD dan warna masing-masing 87.59% dan 56.75%. Sedangkan pada reaktor tanpa ozon, diperoleh efisiensi penyisihan COD dan warna yaitu masing-masing 85.86% dan 64.66. Setelah dilanjutkan pada system kontinu, efisiensi penyisihan COD dan warna menurun. Penyisihan COD dan warna menurun seiring dengan menurunnya waktu tinggal limbah dalam system. Pada waktu detensi selama 24 jam, diketahui penyisihan warna mencapai 96.95% pada reactor dengan ozon, sedangkan penyisihan COD mencapai 89.13%. Sementara, untuk laju penyisihan maksimum pada COD sendiri diketahui pada reaktor dengan ozon yaitu 1.02 g COD/L.hari, sedangkan laju penyisihan substrat maksimum pada reaktor tanpa ozon yaitu sebesar 2.12 gram COD/L.hari.
ANALISIS DAN DASAR PENGENDALIAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA KONSTRUKSI PT X BERDASARKAN PENGARUH LINGKUNGAN KERJA DAN BEBAN KERJA (STUDI KASUS: PROYEK JALAN LAYANG NON TOL TRANSJAKARTA TAHAP PEKERJAAN ERECTION BOX GIRDER)
Sub Judul Oleh : MOCHAMMAD GARIN PALINDRY PRADESHA, NIM: 25314313
Call Number T/ 363.7/ PRA/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang PRADESHA, Mochammad Garin Palindry - Pembimbing : Dr. Ir. Dwina Roosmini, MS
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Kelelahan kerja telah diketahui dapat dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan kerja dan beban kerja. PT X merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia yang salah satunya bergerak dalam pembangunan jalan. Karena tuntutan menyelesaikan pembangunan sesuai target, pekerja melakukan pekerjaannya melebihi batas jam kerja normal. Hal tersebut berdampak terhadap peningkatan beban kerja yang dialaminya. Selain itu, paparan bahaya fisik seperti panas dan bising yang diterima selama kerja berpotensi meningkatkan kelelahan yang dialami pekerja. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan pada pekerja konstruksi jalan layang dalam pembangunan jalur TransJakarta. Kelompok pengamatan dibagi menjadi dua yaitu pekerjaan box girder dan parapet dengan jumlah sampel sebanyak 30 pekerja. Pengukuran kelelahan kerja dilakukan sebelum dan setelah kerja dengan menggunakan alat ukur waktu reaksi (reaction timer). Pengukuran lingkungan kerja menggunakan wet-bulb globe temperature (WBGT) dan sound level meter. Perhitungan beban kerja mengacu pada SNI-7269-2009. Hasil pengukuran kondisi lingkungan kerja menunjukkan bahwa temperatur awal dan tengah shift pada pekerjaan box girder dan parapet melebihi nilai ambang batas sebesar 28oC, sedangkan intensitas kebisingan masih cukup aman karena dibawah nilai ambang batas. Hasil pengamatan beban kerja menunjukkan bahwa pada pekerjaan box girder dan parapet termasuk dalam kategori beban kerja sedang dengan nilai masing-masing sebesar 211,28 ± 17,29 kkal/jam dan 249,88 ± 56,56 kkal/jam. Hasil pengukuran tingkat kelelahan kerja menunjukkan bahwa pekerjaan box girder dan parapet termasuk dalam kategori kelelahan kerja ringan dengan masing-masing peningkatan nilai waktu reaksinya sebesar 231 ± 64,24 milidetik dan 233,82 ± 57,08 milidetik. Analisis regeresi linier berganda menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi peningkatan kelelahan kerja pada pekerjaan box girder adalah beban kerja, usia, dan pengalaman kerja dengan masing-masing nilai signifikansi sebesar 0,051, 0,019, dan 0,033, sedangkan pada pekerjaan parapet PT X adalah usia dengan nilai signifikansi sebesar 0,048
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PADA KEGIATAN PENGEBORAN MINYAK DI PT X, SUMATERA SELATAN
Sub Judul Oleh : Satriyani Kusuma Ningrum, NIM : 25314729
Call Number T/ 658.382/ NIN/ i
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang NINGRUM, Satriyani Kusuma - Pembimbing : Herto Dwi Ariesyadi, ST. MT. Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Peningkatan kebutuhan akan minyak dan gas bumi, menyebabkan bertambahnya usaha-usaha untuk menemukan cadangan minyak dan gas bumi. Salah satunya yaitu pengeboran yang merupakan kegiatan eksploitasi yang prosesnya dilakukan dengan pembuatan lubang sampai kedalaman tertentu untuk mencapai lapisan yang mengandung hydrocarbon. Kegiatan pengeboran membutuhkan beberapa peralatan, yang dibagi ke dalam beberapa sistem yaitu sistem pengangkat (hoisting system), sistem pemutar (rotating system), sistem daya (power system), blow out preventer (BOP) system dan sistem sirkulasi (circulating system). Proses pengeboran menggunakan material-material berat dan mesin yang tergolong besar, sehingga seringkali menyebabkan risiko ataupun kecelakaan kerja pada saat prosesnya. Penelitian dilakukan di PT X, Sumatera Selatan yang merupakan salah satu perusahaan atau industri yang bergerak dalam bidang pengeboran. Identifikasi bahaya dan analisis risiko dalam penelitian ini menggunakan metode HIRARC dan metode JHA yang dikombinasikan dengan metode semi-kuantitatif. Berdasarkan metode HIRARC dapat diketahui area kerja yang memiliki risiko yang tinggi yaitu saat rig moving, pengangkatan material ke catwalk dan v-door dan ke rig floor, bekerja di rig floor dan monkey board, dan bekerja di mud tank dan shale shaker. Sedangkan berdasarkan metode JHA dan semi-kuantitatif, dapat diketahui aktivitas kerja/urutan kerja yang dilakukan, yang dapat memberikan risiko pada area kerja tersebut, yaitu risiko terjepit peralatan, ikatan lepas, barang mengayun, sling putus, terjatuh, tersambar/terbentur peralatan, bising, saluran bertekanan dan ledakan/kebakaran. Berdasarkan hasil kompilasi kedua metode di atas maka, dapat diberikan usulan pengendalian risiko mencakup upaya rekayasa pengendalian teknik, administratif, pelatihan dan APD untuk mengurangi risiko bahaya tersebut.
STUDI EFISIENSI SISTEM PENGUMPULAN DAN PEMINDAHAN SAMPAH DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN TIME MOTION STUDY
Sub Judul Oleh : Dinda Annisa Nurdiani, NIM : 25315037
Call Number T/ 628.445/ NUR/ s
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang NURDIANI, Dinda Annisa - Pembimbing : Dr. Mochammad Chaerul. S.T. M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Angka jumlah penduduk di Kota Bandung yang terus bertambah dari tahun ke tahun, memacu bertambahnya timbulan sampah. Meningkatnya jumlah timbulan sampah akan memaksa pihak pengelola sampah untuk mendapatkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien termasuk pada sistem pengumpulan dan pemindahan sampah. Efisien berarti mendapatkan lebih banyak dari modal yang sedikit (mengumpulkan lebih banyak sampah menggunakan alat, tenaga kerja dan waktu yang lebih sedikit). Tujuan utama dari penelitian ini yaitu menentukan variabel yang berpengaruh pada efisiensi sistem pengumpulan dan pemindahan serta menentukan sistem pengumpulan dan pemindahan yang paling efisien untuk diterapkan di Kota Bandung. Efisiensi ini ditinjau dari aspek teknis yaitu kecepatan atau waktu yang diperlukan. Untuk tinjauan aspek teknis ini dilakukan studi waktu gerak terhadap 34 petugas pengumpul sampah dan 8 TPS di Kota Bandung dengan meninjau setiap elemen gerak pada pengumoulan dan pemindahan sampah. Hasil dari studi waktu gerak menunjukan bahwa variabel alat berpengaruh pada kecepatan mendorong alat pengumpul sampah, dengan kecepatan tercepat untuk setiap variasi lebar jalan dan kontur adalah motor roda tiga dengan kecepatan 300-400 m/menit. Sementara variabel yang berpengaruh pada kecepatan pengosongan wadah adalah jenis wadah. Dengan pengosongan wadah tercepat dilakukan pada wadah sampah dengan jenis sekali pakai dengan kecepatan 20-30 kg/menit. Sementara untuk sistem pemindahan variabel jenis TPS berpengaruh pada waktu gerak alat pengumpul dan alat pengangkutan di TPS. Waktu gerak yang diperlukan untuk alat pengumpul di TPS SWT lebih sedikit dibanding TPS SWA sementara waktu gerak alat pengangkutan untuk alat pengangkutan di TPS SWA lebih sedikit dibanding di TPS SWT. Oleh karena itu, sistem pengumpulan sampah yang efisien secara teknis adalah menggunakan motor roda tiga atau mobil pick up dengan jenis wadah sekali pakai. Untuk sistem pemindahan yang paling efisien ditinjau dari alat pengumpul adalah TPS SWT sementara ditinjau dari alat pengangkutan adalah TPS SWA. Ditinjau dari time motion study dan aspek pembiayaan sistem pengumpulan yang paling efisien diterapkan di Kota Bandung adalah menggunakan motor roda tiga/ mobil pick up sementara untuk sistem pemindahan adalah menggunakan TPS SWA
ANALISIS PENELUSURAN TRAJEKTORI AEROSOL SECARA HORIZONTAL DAN VERTIKAL DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN HYSPLIT-4 BACK TRAJECTORY MODEL
Sub Judul Oleh : Amalia Nurlatifah., NIM : 25314311
Call Number T/ 628.53/ NUR/ a
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang NURLATIFAH, Amalia - Pembimbing : Ir. R. Driejana, M.SCE, Ph.D.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Kebakaran hutan pernah terjadi beberapa kali di Indonesia dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, salah satu yang terparah adalah kebakaran hutan pada Bulan Oktober 2015. Aerosol adalah polutan hasil emisi kebakaran hutan yang dapat bertransportasi secara long-range dan dapat menimbulkan pencemaran udara. Dalam penelitian ini dilakukan penelusuran trajektori aerosol di Kota Bandung pada masa terjadinya kebakaran hutan pada Oktober 2015 secara horizontal dan vertical menggunakan HYSPLIT-4 Back Trajectory Model dengan data masukan GDAS 0,5ox0,5o. Analisis pengaruh kebakaran hutan terhadap peningkatan konsentrasi aerosol direpresentasikan dengan kenaikan nilai AOD. Nilai AOD didapat dari MODIS. Hasil keluaran model dianalisis bersama data curah hujan dari GSMaP, data meteorologi NCEP/NCAR, dan data topografi SRTM CGIAR-CSI untuk mendapatkan analisis yang lebih akurat dalam penelusuran trajektori aerosol di Kota Bandung menggunakan HYSPLIT-4 Back Trajectory Model. Pada periode Oktober 2015 di level permukaan (10 meter AGL) terlihat bahwa nilai AOD di Kota Bandung cenderung tinggi bahkan mencapai nilai maksimum 1,406. Hal ini mengindikasikan adanya kenaikan konsentrasi aerosol pada Bulan Oktober 2015. Plot trajektori menyatakan aerosol pada level permukaan dan 925 hPa di Kota Bandung cenderung berasal dari tenggara dan timur Kota Bandung diantaranya diduga berasal dari Samudera Hindia, Cilacap, Ciamis, Garut, Sumedang, Padalarang, ataupun Cimahi. Pada ketinggian 700 hPa (3000 meter AGL) aerosol cenderung berasal dari darah Kalimantan Tenggara. Tingginya nilai AOD mengindikasikan adanya sumber aerosol yang mengemisikan aerosol secara masif sebelum trajektorinya sampai di Kota Bandung. Kebakaran Hutan Kareumbi di Sumedang, kebakaran Hutan Papandayan di Garut, dan kebakaran hutan di kawasan Gunung Masigit di Padalarang pada Bulan Oktober 2015 dipercaya sebagai pemicu utama tingginya nilai konsentrasi aerosol di Kota Bandung pada level permukaan. Sementara kebakaran hutan di Kalimantan Tenggara menjadi penyebab tingginya konsentrasi aerosol di level 700 hPa.
IDENTIFIKASI DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN SUNGAI CITARUM HILIR DI KARAWANG MENGGUNAKAN WASP
Sub Judul Oleh : Fanti Nur Laili., NIM : 25314708
Call Number T/ 628.54/ LAI/ i
Tipe 5
Tahun Terbit 2017
Penerbit Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Pengarang LAILI, Fanti Nur - Pembimbing : Dr. Asep Sofyan S.T., M.T.
Subyek Engineering ; Rekayasa
Deskripsi Sungai Citarum merupakan sungai terbesar di wilayah Provinsi Jawa Barat yang memiliki luas DAS 6.614 km2 dengan panjang 300 km. Bagian hulu Sungai Citarum berada di Kabupaten Cianjur dan bagian hilirnya berada di Kabupaten Karawang. Sungai Citarum bagi Kabupaten Karawang memegang peranan penting untuk aktivitas domestik, pertanian dan industri. Saat ini Sungai Citarum telah menjadi isu nasional sebagai sungai yang mengalami pencemaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pencemaran sungai Citarum hilir melalui kondisi eksisting perairan Sungai Citarum Hilir berdasarkan parameter kimia dan fisika. Mengidentifikasi beban pencemaran organik berupa BOD (Biochemical Oxigen Demand) dari Non Point Source dan Point Source di sungai Citarum hilir sepanjang 17,7 km. WASP (water quality analisys system program) adalah software yang dapat digunakan untuk menghitung Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, parameter BOD, DO, senyawa amonia, Nitrit, Nitrat, pH, TDS dan kekeruhan tidak memenuhi kriteria mutu air kelas II. Indeks pencemaran menunjukkan sungai Citarum hilir sudah tercemar dari lokasi hulu (Bendungan Walahar) sampai ke hilir (Jl. Rumah Sakit) dengan status cemar ringan sampai berat. Beban Limbah BOD berasal dari limbah domestik, peternakan, pertanian dan industri. Beban limbah Point Source dari industri sebesar 17.459,57 kg/hari (92,35%) menyumbang limbah BOD ke sungai Citarum hilir, sedangkan limbah Non Point Source dari aktivitas domestik sebesar 7,54%, peternakan 0,09% dan pertanian 0,01%. Hasil modeling Sungai Citarum hilir menunjukkan bahwa pada kondisi debit minimum (1,6 m3/detik) tidak dapat memenuhi kualitas sungai I, II, III dan IV di sepanjang 17,7 km. Pada debit maksimum (42,5 m3/detik) lokasi sungai yang memenuhi sungai kelas III meningkat 32,39 % dari 0 km menjadi 5,734 dengan DTBP segmen 1 sebesar 11.008,7 kg/hari dengan panjang 2,49 km dan segmen 2 sepanjang 3,244 km dengan DTBP 2.819 kg/hari. Pengurangan limbah 50% dari Point Source dan Non Point Source belum dapat menjadikan sungai Citarum hilir menjadi kelas II.
Login